Festival Permainan Tradisional KPBB UAJY Hidupkan Kembali Kenangan Masa Kecil


Ada masa ketika sore hari terasa begitu panjang. Anak-anak berlarian di halaman rumah, saling mengejar dalam permainan petak umpet, tertawa saat gasing berputar sempurna, melompati tali karet tanpa boleh menyentuhnya, atau duduk melingkar memainkan dakon hingga lupa waktu. Kenangan sederhana itu perlahan tergeser oleh layar gawai dan kesibukan sehari-hari. Namun, selama beberapa jam di Lobby Besar Kampus 3 Gedung Bonaventura UAJY pada Kamis (5/6), masa kecil itu seperti hidup kembali.

Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (KPBB) UAJY menggelar Festival Permainan Tradisional, sebuah acara yang mengajak mahasiswa menjelajahi berbagai budaya melalui permainan rakyat dari berbagai belahan dunia. Tawa dan sorak-sorai terdengar dari setiap sudut ruangan. Tidak ada yang terlalu memikirkan menang atau kalah. Yang terlihat justru rasa penasaran, canggung yang berubah menjadi akrab, dan rasa nostalgia yang kembali muncul ketika tangan mulai memainkan permainan yang sudah lama ditinggalkan.

Acara yang dimulai pukul 12.00 WIB ini dibuka oleh Kepala Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya UAJY, R.A. Vita Noor Prima Astuti, S.Pd., M.Hum., Ph.D. Beliau memiliki harapan agar untuk semua peserta menikmati serunya bermain bersama. “Bermain tidak hanya memicu adrenalin, tetapi juga melepaskan dopamin yang baik bagiuntuk Kesehatan,” ungkapnya.

Setelah pembukaan, peserta dipersilakan berkeliling mengunjungi berbagai booth yang mewakili Indonesia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini, Kamboja, Benua Afrika, Asia Selatan, dan Jerman. Festival ini juga berkolaborasi dengan UKM Seni Budaya Nasional (SBN) UAJY yang membantu menjaga booth Indonesia dan memperkenalkan beragam permainan tradisional Nusantara.

Di booth Indonesia, peserta dapat mencoba gasing, permainan tradisional berbahan kayu yang diputar menggunakan lilitan tali dan berlomba mempertahankan putarannya selama mungkin. Ada pula Hulahoop, lingkaran yang diputar di pinggang atau anggota tubuh lain dengan menjaga ritme agar tidak jatuh. Sementara itu, Bekel mengajak peserta melempar bola kecil ke udara sambil mengambil biji-biji bekel di lantai, permainan yang mengandalkan koordinasi tangan dan konsentrasi. Tak jauh dari sana, ada Dakon atau Congklak, permainan papan berlubang yang dimainkan dengan memindahkan biji-bijian kecil sambil menyusun strategi untuk mengumpulkan hasil terbanyak. Booth Indonesia juga menghadirkan permainan khas Nias, Fagito atau Fayeye, permainan lompat tali karet yang dimainkan secara berkelompok dengan tingkat kesulitan yang meningkat seiring posisi tali yang semakin tinggi.

Booth dari negara lain menghadirkan pengalaman yang tidak kalah menarik. Timor Leste memperkenalkan Tapa, permainan yang mirip engklek dengan pola kotak-kotak di tanah yang harus dilompati, serta Benthik, permainan tradisional menggunakan dua batang kayu dengan ukuran berbeda yang dimainkan secara berkelompok. Dari Papua Nugini, peserta diajak memainkan permainan Kucing dan Tikus, variasi permainan kejar-kejaran yang mengandalkan kecepatan dan kerja sama antarpemain.



Di booth Kamboja, peserta mencoba The Monkey Stealing Tree Leaf, permainan kelompok di mana satu pemain berperan sebagai monyet yang berusaha “mencuri daun” dari pemain lain tanpa tertangkap. Permainan ini memancing tawa sekaligus melatih strategi dan kelincahan. Sementara itu, booth Filipina menghadirkan Tinikling, tarian rakyat tradisional yang juga dapat dimainkan sebagai permainan. Dua batang bambu dipukulkan ke lantai secara berirama, sementara pemain lain harus melompat masuk dan keluar di sela-sela bambu tanpa terjepit.

Dari Benua Afrika, peserta dapat mencoba tiga permainan berbeda, yaitu Balloon Game, Pond Game, dan Drought/Dame, yang dimainkan secara berkelompok dan menekankan kerja sama, kecepatan berpikir, serta kelincahan bergerak. Booth Asia Selatan memperkenalkan Yassu Panju, permainan sederhana yang menggunakan tepukan tangan dan gerakan jari. Meski terlihat mudah, permainan ini membutuhkan refleks cepat untuk menghindari atau menepuk tangan lawan pada waktu yang tepat. Sementara itu, Jerman menghadirkan Eierlaufen atau Egg and Spoon Race, lomba berjalan sambil membawa telur di atas sendok tanpa menjatuhkannya.


Berkeliling dari satu booth ke booth lain rupanya tidak hanya membawa pulang pengalaman baru. Di tangan para peserta, terdapat lembar kartu kecil yang perlahan dipenuhi stempel dari setiap permainan yang mereka coba. Mahasiswa yang berhasil mengumpulkan lima stempel dari lima booth berbeda berhak mendapatkan poin SPAMA (Sistem Partisipasi Aktivitas Mahasiswa Atma Jaya). Setelah terkumpul, poin tersebut dapat ditukarkan menjadi sertifikat minat dan bakat di booth KPBB. Cara sederhana ini membuat banyak peserta tertarik untuk mencoba berbagai permainan, bahkan yang awalnya terasa asing bagi mereka.

Bagi Given Tangkowit, mahasiswa Fakultas Teknobiologi UAJY, festival ini membawa kembali kenangan yang sudah lama tersimpan. “Jujur kalau aku pribadi main game tradisional itu sekitar 10 sampai 12 tahun yang lalu. Jadi ketika KPBB menghadirkan traditional games di Atma Jaya, itu benar-benar bikin aku terharu. Aku ngerasa walaupun kita sudah gede, kita masih bisa merasakan serunya permainan tradisional lagi,” ungkapnya.

Kesan serupa juga dirasakan oleh Maria Angelica atau Mangel, selaku person in charge (PIC) Festival Permainan Tradisional. Menurutnya, menjadi PIC memberikan banyak pelajaran, mulai dari mengatur tim, berkomunikasi dengan berbagai pihak, hingga menghadapi tantangan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Meski melelahkan, semua proses itu terbayar ketika melihat peserta menikmati setiap rangkaian kegiatan.

“Saya juga senang karena melalui festival ini, permainan tradisional yang mungkin sudah jarang dimainkan bisa kembali dikenal dan dimainkan oleh teman-teman mahasiswa. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus diadakan dan semakin banyak anak muda yang tertarik untuk mengenal sekaligus melestarikan budaya Indonesia,” ujarnya.

Festival Permainan Tradisional membuktikan bahwa masa kecil mungkin sudah berlalu, tetapi kenangan tentang bermain bersama tidak pernah benar-benar hilang. Kadang, yang dibutuhkan untuk menghidupkannya kembali hanyalah sebuah gasing yang berputar, sepasang bambu yang bergerak berirama, atau tali karet sederhana yang mengajak orang-orang berkumpul dan bermain bersama sekali lagi.

Penulis: Student Staff/Dulce Maria Bella Natalie