
Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (KPBB) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) kembali membuka kesempatan bagi mahasiswa dan masyarakat umum untuk mengukur kemampuan Bahasa Inggris dengan mengikuti Paper-Based TOEFL ITP by ETS Batch #11, yang akan dilaksanakan pada Jumat, 4 September 2026 pukul 14.00-16.00 WIB.
Dalam rangka Promo Dies Natalis, KPBB menyediakan harga spesial melalui promo diskon hingga 50%. Para peserta dari UAJY dapat membayar Rp250.000 dan Rp300.000 untuk peserta umum.
Sertifikat yang akan diterima peserta merupakan sertifikat resmi dari ETS, yang berlaku selama 2 tahun penuh. Sangat cocok untuk mempersiapkan kebutuhan akademik, administrasi, maupun pengembangan diri.
Pendaftaran telah dibuka dari Kamis, 6 Agustus 2026, dan akan ditutup pada Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 12.00 WIB. Kuota terbatas untuk 15 peserta, dan pendaftaran akan ditutup jika sudah memenuhi kuota. Pendaftaran bisa melalui link https://bit.ly/PENDAFTARANTOEFLITPBATCH11, atau scan barcode pada poster TOEFL ITP Batch #11 di Instagram & Channel WhatsApp KPBB UAJY.
READY TO LEVEL UP YOUR ENGLISH!!! Jangan tunggu sampai kehabisan tempat. Amankan kursimu sekarang dan ikuti TOEFL ITP Paper-Based Batch #11 di KPBB UAJY!
Penulis: Student Staff/Gradciano Madomi Jawa

Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (KPBB) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) kembali membuka kesempatan bagi mahasiswa UAJY dan masyarakat umum yang ingin mulai belajar bahasa asing. Melalui Kursus Bahasa Asing Level 1, peserta akan diajak membangun kemampuan dasar bahasa asing selama satu bulan, mulai 10 Agustus hingga 11 September 2026.
Kursus ini ditujukan secara khusus bagi peserta yang masih pemula, baik yang belum pernah mempelajari bahasa tersebut maupun yang baru memiliki pengetahuan yang sangat minim. Pada Level 1, pembelajaran tidak berfokus pada tata bahasa yang rumit. Peserta akan lebih dulu dibekali fondasi dasar agar dapat mulai berkomunikasi dan memahami konteks sederhana dalam bahasa yang sedang dipelajari.
Kepala KPBB UAJY, R.A. Vita N.P. Astuti, Ph.D., menyatakan, “Materi dasar dalam kursus bahasa asing mencakup pengenalan alfabet atau sistem penulisan, bentuk-bentuk interaksi sederhana, hingga tata bahasa sederhana. Dengan bekal tersebut, peserta diharapkan dapat mulai mengenal bahasa asing dengan cara yang lebih terarah”.
Dalam wawancara singkat dengan para mahasiswa dan student staff di Kampus III UAJY, kursus bahasa asing dirasa sangat penting untuk menjadi bekal mereka di masa depan. Selain membantu peserta berkomunikasi dengan lebih lancar dan efektif, kursus ini juga hadir sebagai bagian dari persiapan mahasiswa dalam menghadapi era globalisasi. Kemampuan menguasai lebih dari satu bahasa menjadi salah satu nilai tambah yang diminati di dunia kerja.
Mulai September 2026, sertifikat Kursus Bahasa Asing yang diselenggarakan KPBB juga dapat digunakan sebagai salah satu persyaratan yudisium bagi mahasiswa semester akhir UAJY. Wakil Rektor I, Sushardjanti Felasari, S.T., M.Sc. CAED., Ph.D., menjelaskan, “Ketentuan ini mengacu pada Surat Rektorat Nomor 418/In/WR.I/VII/2026 tertanggal 21 Juli 2026 mengenai Ketentuan Kemampuan Bahasa untuk Persyaratan Yudisium”.
Berdasarkan ketentuan tersebut, hasil tes kemampuan bahasa Inggris dan bahasa asing yang dikelola KPBB menjadi salah satu persyaratan yudisium mahasiswa, seperti TOEFL ITP, EnglishScore by British Council, dan EPT UAJY. Selain tes tersebut, mahasiswa juga dapat menggunakan sertifikat kursus di KPBB untuk bahasa asing selain Bahasa Inggris dan bahasa isyarat, dengan ketentuan minimal lulus Level 1 dan memperoleh skor minimal 70. Sertifikat tersebut berlaku selama dua tahun.
Salah satu staf KPBB UAJY, Juan Pius Pratomo, S.S., mengatakan, “Penyelenggaraan kursus bahasa asing bermula dari adanya sejumlah permintaan serta melihat potensi mahasiswa yang tertarik mempelajari bahasa selain Bahasa Inggris. Kebutuhan kemampuan bahasa asing untuk menghadapi dunia profesional pada masa mendatang juga menjadi salah satu alasan kursus ini diadakan”.
Kursus kali ini merupakan Batch 1. Pembelajaran berlangsung selama lima minggu dengan total 10 pertemuan, yaitu dua kali pertemuan setiap minggunya. KPBB menyediakan pilihan bahasa Jerman, Jepang, Korea, dan Mandarin yang dapat dipilih peserta sesuai kebutuhan.
Batch pertama ini sekaligus menjadi bahan pertimbangan bagi KPBB untuk melihat antusiasme mahasiswa terhadap kursus bahasa asing. Hasilnya juga akan menjadi tolok ukur KPBB sebagai penyedia layanan pelatihan bahasa dan budaya dalam memenuhi kebutuhan mahasiswa maupun masyarakat umum.
Juan Pius berharap penyelenggaraan kursus ini dapat membantu peserta meningkatkan kemampuan bahasa asing sebagai daya saing di masa mendatang. “Tidak hanya kemampuan berbahasa, peserta juga diharapkan memperoleh pemahaman lintas budaya sehingga mampu beradaptasi dengan lingkungan internasional,”tambahnya.
Pendaftaran Batch 1 telah dibuka hingga 10 Agustus 2026 pukul 12.00 WIB. Biaya pendaftaran sebesar Rp290.000 bagi mahasiswa UAJY dan Rp340.000 bagi peserta umum. Peserta juga akan mendapatkan kesempatan belajar bahasa asing bersama pengajar bahasa yang profesional.
Mahasiswa yang ingin mengikuti Kursus Bahasa Asing bisa mendaftar melalui link pendaftaran https://bit.ly/PENDAFTARANKURSUSBAHASAASING26?r=qr. Karena pendaftaran dibuka untuk 20 orang tercepat, calon peserta perlu segera melakukan pendaftaran agar tidak melewatkan kesempatan mengikuti Kursus Bahasa Asing Batch 1.
Penulis: Student Staff/Gradciano Madomi Jawa
Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (KPBB) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) kembali menyelenggarakan Program Jogja Istimewa (Jogist) pada Senin, 13 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung di Yayasan Siswa Among Beksa ini dilaksanakan mulai pukul 07.30 hingga 11.00 WIB.

Kali ini, Program Jogist ini berupa Program Susulan, yang artinya program yang dikhususkan bagi mahasiswa UAJY yang belum lulus atau belum mengikuti program Jogist sebelumnya. Jogist Susulan merupakan program yang dirancang untuk memperkenalkan budaya dan nilai-nilai luhur Yogyakarta kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa perantau. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, tata krama masyarakat, serta mempraktikkan secara langsung salah satu warisan budaya, yaitu Joged Mataram.
Sebelum praktik budaya dimulai, peserta memperoleh materi yang dibawakan oleh Woro Wiratsih, S.Pd., M.A., mengenai keistimewaan Yogyakarta, sejarah terbentuknya Daerah Istimewa Yogyakarta, serta nilai-nilai unggah-ungguh yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Setelah itu, peserta mengikuti praktik Joged Mataram yang dipandu langsung oleh Harin Setyandari, S.Sn., dan Muhamad Samiaji S.Pd., sehingga mereka tidak hanya mempelajari gerakan tari, tetapi juga memahami filosofi yang terkandung di dalamnya.

Mahasiswa Engelberth Fredrik Hany Yogi, mengaku memperoleh pengalaman baru selama mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, sesi praktik tari menjadi bagian yang paling berkesan.
“Saya terkesan sekali pada saat mengikuti sesi tarian. Meskipun saya tidak bisa menari, saya merasa senang karena bisa mempelajari gerakan-gerakannya. Melalui materi yang disampaikan, saya juga menjadi lebih memahami budaya Jogja, mulai dari tata krama, tari tradisional, hingga berbagai keunikannya,” ungkap Engelberth.

Kesan serupa juga disampaikan oleh mahasiswa Yohanes T. B. Nifanngilyau Tiku. Ia mengatakan bahwa kegiatan Jogist memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai budaya Yogyakarta sekaligus mengajarkan nilai-nilai kehidupan melalui setiap gerakan Joged Mataram.
“Saya sangat terkesan dengan keramahan masyarakat Yogyakarta dan bagaimana nilai-nilai budaya serta tata krama tetap dijaga hingga saat ini. Saat belajar Joged Mataram, saya menyadari bahwa setiap gerakannya bukan sekadar gerakan fisik, tetapi juga mengandung filosofi, keanggunan, dan konsentrasi. Dari kegiatan ini saya belajar tentang sejarah Yogyakarta, tata krama masyarakat, serta nilai tanggung jawab, percaya diri, dan semangat yang diajarkan melalui tarian tradisional,” tutur Yohanes.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan, terutama saat praktik Joged Mataram. Meskipun sebagian besar peserta baru pertama kali mempelajari tarian tersebut, mereka tetap bersemangat mengikuti setiap gerakan yang diajarkan hingga kegiatan berakhir.
Kepala KPBB, R.A. Vita N.P. Astuti, Ph.D., menyampaikan, “Peserta Jogist tidak hanya mengikuti materi dan praktik Joged Mataram, tetapi juga memperoleh tugas untuk menyusun laporan kegiatan dalam bentuk video reels yang diunggah melalui akun Instagram @jogistuajy”.
Salah satu PIC Jogist Susulan Periode I, Tatianna Cinta Larasati, berharap Jogist Susulan dapat membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap budaya Yogyakarta.
“Semoga melalui Jogist Susulan, mahasiswa dapat lebih mudah beradaptasi, menyesuaikan diri dengan kultur Yogyakarta, serta semakin mengenal dan menghargai budaya yang dimiliki daerah ini,” ungkap Laras.
Bagi mahasiswa yang belum sempat mengikuti Jogja Istimewa, peogram ini masih akan kembali dibuka pada periode berikutnya. Informasi mengenai pelaksanaan Jogja Istimewa dapat dipantau melalui akun Instagram @kpbbuajy.
Penulis:Student Staff/Adinda Putri
Written by: Lady Dorothy Avila Elli

Winning First Place at the BIPA Storytelling Competition
Celebrating first place (Juara Satu) in the BIPA Storytelling Competition alongside fellow international BIPA students learning Bahasa Indonesia. My performance featured the Filipino folktale Ibong Adarna, sharing a piece of Philippine culture through storytelling.
“Hah? Kamu bisa bahasa Indonesia? Padahal kamu bukan orang Indonesia? Kamu sudah belajar berapa bulan?”
“Wait, you can speak Bahasa Indonesia even though you are not Indonesian? How many months have you been learning?”
This is one of the questions I hear most often in Yogyakarta. It usually comes with widened eyes, a laugh, and several follow-up questions about where I am from and why learning Bahasa Indonesia seemed to come so naturally to me.
In some ways, I expected these questions. As a Filipino American with Southeast Asian features, I am often mistaken for Indonesian before I begin speaking. When people learn that I am Filipino, the conversation usually turns to the similarities between Bahasa Indonesia and languages in the Philippines. Many words, sentence patterns, and cultural expressions feel familiar to me, which made the language more approachable from the beginning. That is how I got my nickname, “Indonesian palsu” or “fake Indonesian,” wherever I go.
I came to Yogyakarta in 2025 as a Princeton in Asia Fellow at Atma Jaya University Yogyakarta. My official role was to teach English and share American culture. However, from the beginning, I knew that I did not want to spend the year only standing in front of a classroom. I wanted to understand the people around me and build a life that felt connected to the place where I was living.
The similarities between Filipino and Indonesian culture gave me a sense of confidence from the beginning. Many words, expressions, and social cues already felt familiar, which made it easier to connect with my students, the staff at my office, Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (Office of Language and Culture), and the people I met in daily life. That familiarity gave me a strong starting point, but mastering Bahasa Indonesia came through experience: listening carefully, making mistakes as often as possible, learning Bahasa gaul (or informal language), and practicing every day with all different types of people.
Over time, my Bahasa Indonesia began to grow beyond the BIPA (Indonesian for Foreign Language Speakers) classroom. After spending hours learning the language as a student myself, I became more comfortable using it in everyday situations and eventually in my own English classes. I started with short phrases, then gradually worked my way up to full sentences and simple explanations.
I especially began using Bahasa Indonesia when I could see that my students were feeling overwhelmed by a class conducted entirely in English. Sometimes, a brief explanation in Bahasa Indonesia was enough to help them understand the context and regain their confidence to follow the lesson again. Each time I tried, I became a little more comfortable. The language I had practiced with teachers, friends, colleagues, drivers, and shopkeepers gradually found its way into my own classroom, especially with the way I taught and connected with my students.

A Final Class Filled with Learning and Laughter
One last English Club meeting together with an incredible group of students. Through interactive activities, conversations, and shared experiences, we built confidence in English while creating lasting memories.
Making English Feel Less Frightening
On the first day of a new class, I could often see the nervousness on students’ faces.
Some students avoided eye contact. Others quietly told their friends, “Aku nggak bisa bahasa Inggris,” or “I cannot speak English.” A few would apologize before answering a question, even when they had not done anything wrong.
I understood that fear. From my own experience, learning Bahasa Indonesia reminded me how vulnerable it feels to speak in a language that is not your own. You may know what you want to say, but the words do not always arrive at the right time. You become aware of every pronunciation mistake and every sentence that sounds different from how you imagined it. Because of this, my goal was to create a classroom where students felt safe enough to try using the English language.
We played games, completed speaking challenges, acted out role-plays, discussed culture, listened to music, moved around the classroom, and worked in groups. I wanted students to experience English as something alive and useful, rather than something they only needed to memorize for an examination.
After one class, a student told me, “At first, I thought the class would be difficult and stressful. But every time I leave, I feel happy because I learned something and had fun.” Another student shared that my classes helped them realize they did not have to wait until their English was perfect before speaking.
Those comments stayed with me because they captured exactly what I hoped the classes could accomplish. Confidence does not always appear as a dramatic transformation. Sometimes, it looks like a student raising their hand for the first time. Sometimes, it is a student speaking for thirty seconds without apologizing. Sometimes, it is laughter filling the room after everyone makes the same mistake together.
My students taught me that learning becomes more meaningful when people are allowed to enjoy it.

Celebrating the End of Our Journey Together
A group photo with my English class from the Faculty of Industrial Technology (FTI), taken at a local photo booth after our final meeting. Their enthusiasm and willingness to learn made every class engaging and meaningful- this is why I teach!
Teaching Culture Beyond the Classroom
My work at Atma Jaya also gave me opportunities to create cultural programs that brought students, staff, and student staff together.
Throughout the year, I helped organize events such as Halloworld (for Halloween), Friendsgiving (for Thanksgiving), Easter, and U.S. Day (for the Fourth of July) as the staff member in charge. Aside from them being celebrations of American holidays, they were opportunities for cultural exchange and community building. Together with the staff and student staff, we designed interactive programs that incorporated games, food, trivia, music, reflection, and conversation, creating engaging and memorable experiences for everyone involved.
For Easter, I wanted the event to feel welcoming even for participants who did not share my Catholic faith. We focused on themes of hope, renewal, gratitude, and new beginnings. During USA Day, we transformed the space into activity stations where students could learn about culture while participating in challenges and games.
There were moments before these events when the room seemed to be held together by organized chaos. Decorations were still going up, tables needed to be rearranged, and materials were not always where we expected them to be. One person needed an extension cord. The other one else was searching for tape, and questions seemed to come from every direction at once.
Looking back, those moments made the events even more meaningful. Being part of the preparation gave me a glimpse of everything that happens behind the scenes, from the small tasks and quick decisions to the collective effort from the committees-in-charge that participants may never see. Then the doors opened, the participants arrived, and the room filled with conversation. Suddenly, all of those frantic moments made sense.
What stayed with me most was the energy and enthusiasm that the student staff brought to the process which also carried into the events themselves. The effort they put into creating an engaging environment became part of the experience for everyone in the room. There was something special about watching the work behind the scenes transform into genuine enjoyment for the participants.
During the events, the spaces came alive with conversation, laughter, and joy. Students who had once been hesitant to participate in class were suddenly competing in games and cheering one another on. Seeing that transformation reminded me that, sometimes, the most meaningful learning happens when people feel comfortable enough to participate, make mistakes, laugh, and learn together.
Above all this, I truly believe that none of these programs would have been possible without the staff and student staff at Atma Jaya. Throughout my time in college, from my bachelor’s degrees to my master’s degrees, I have been involved in many organizations and worked with many different teams. However, my experience at Atma Jaya, especially with the KPBB, felt different. It was comforting to know that I had a team behind me who could make even the most stressful moments enjoyable. They were there before, during, and after every event, from buying materials at our local shops like Mirota, Toko Merah, and Adele to solving last-minute problems, and sometimes simply keeping me calm when things became overwhelming.
Over time, they became a group I knew I could genuinely rely on. Some of my favorite memories are not even from the programs themselves, but from the moments we shared while preparing for them: the conversations, jokes, rushed problem-solving, and sense that we were all figuring things out together.
Working with them also changed how I think about leadership, especially taking on a leadership role using a language that was quite new to me. I learned that I did not always have to carry everything myself. Sometimes, being a good leader meant trusting the people around me, listening to their ideas, and allowing everyone to contribute what they did best.

The Team Behind an Unforgettable Year
A special moment with the KPBB staff: Pak Anton, Pak Kusman, Pak Sapto, Mbak Asa, and the Head of KPBB, Bu Vita. Their mentorship and support made Yogyakarta genuinely feel like a second home.
Becoming a Student Again
While I was encouraging my students to speak English without fear, I was also learning Bahasa Indonesia. At first, even simple conversations required preparation. Before speaking, I would quietly arrange the sentence in my mind. I worried about using the wrong expressions, sounding too formal, or accidentally saying something inappropriate in class.
Still, I continued.
I practiced Bahasa Indonesia with people inside and outside the office, whether that included tawar-menawar (bargaining) at local markets, talking to my favorite tailor about how I would like my clothes adjusted, or doing basa-basi (small talk) with all different types of people I met on my trips around Indonesia. Some conversations went smoothly. Others ended with laughter because I had used the wrong word or misunderstood a question.

Experiencing Javanese Tradition Through a Traditional Ceremony
Wearing traditional attire alongside BIPA students during a cultural procession and ceremony in Desa Kemadang, Gunung Kidul. As BIPA students, we were honored to be invited to experience and celebrate local Javanese traditions firsthand.
Over time, I became more comfortable. Learning Bahasa Indonesia changed my experience in Yogyakarta. It allowed me to speak with people who might not have felt comfortable using English. It helped me understand jokes, emotions, and small cultural details that are often lost in translation. Most importantly, it showed people that I wanted to meet them where they were.
One of the most unforgettable moments of my fellowship was joining a lomba dongeng, or storytelling competition, in Bahasa Indonesia.
Before stepping onto the stage, I kept thinking, “Why did I agree to do this?”
Bahasa Indonesia was my fourth language, and I had only been seriously studying it during my time in Indonesia. I was nervous about forgetting my lines or saying the wrong thing in front of classmates and friends. While I already played the role of Rara Tarub, the main character in our BIPA (Bahasa Indonesia for Foreign Students) class’ end-of-the-year drama last semester, I was convinced the lomba dongeng would be more difficult because it was five whole minutes of acting, changing my voice to fit the characters, and telling a story from my culture without using my own language.
I performed anyway, constantly telling myself: “Kamu bisa! Pasti bisa!”

Bringing Philippine Folklore to the Stage
Presenting the story of Ibong Adarna, one of the Philippines’ most beloved legendary tales, during the BIPA Lomba Dongeng or Storytelling Competition. The performance celebrated cultural exchange through language, storytelling, and tradition.
With the help of student staff and friends from the Filipino community, I have been blessed to be able to finish the decorations, do run-throughs guided with directions and advice from my Ates and Kuyas (older sisters and older brothers in Filipino), and polish my performance from start to finish.
When my name was announced as the first-place winner, I felt shocked, proud, and immensely grateful. Winning was exciting, but the experience meant more than receiving Juara 1 (First Place). It represented every correction from a teacher, every conversation with a friend, and every moment when I chose to speak even though I was afraid of making a mistake. Most importantly, it represented the power of community. I would not have been able to achieve Juara 1 without my community supporting me, from making the props to even showing up the day of the lomba.
That competition also changed the way I understood my students. I could no longer tell them, “Do not be afraid to speak,” without remembering how my own hands felt before I walked onto that stage. It taught me to empathize with their fear rather than simply encourage them to overcome it. I began to understand that fear is not always something we need to eliminate; sometimes, it is something we need to accept and face boldly. To me, that is where confidence comes in. Confidence means being courageous enough to keep speaking despite the fear. That is the mindset I now encourage my students to carry throughout their English-language journey.

Exploring Lampung with Friends Who Became Family
A memorable holiday in Lampung with Feby, one of the first student staff members I met at KPBB, and her family. From beach hopping to snorkeling, the trip became a wonderful reminder of the friendships formed during my year in Indonesia.
Finding Home Through People
Outside Atma Jaya, Indonesia became meaningful to me through the people who invited me into their lives.
Before I knew it, I had gone from arriving with almost no community to creating communities of my own. As my circle of friends grew, I started organizing a running group, a church group, and our own little jalan-jalan group. One friendship led to another, and soon there was always someone ready to join a run, attend Mass, try a new café, take a weekend trip, or explore somewhere new.
I owe so much of that to the Indonesian ayo, ayo, ayo culture, the spirit of “come on, let’s go!” I loved being surrounded by people who were willing to say yes to an invitation or new experience. That openness made it easy to bring people together. I could suggest an idea, send a message, and somehow a plan would come to life.
That energy shaped some of my favorite memories. Friends welcomed me into their homes in places like Jepara and Lampung. I spent holidays with families, rode the “banana boat” multiple times with them, went snorkeling and failed at freediving multiple times, and shopped for oleh-oleh at various cities in Indonesia. These experiences were fun and memorable, but what stayed with me most was the care that followed them. After a long trip, a late ride home, or even a simple day out, someone would usually check in.
One of the questions I heard most often was, “Sudah sampai?” or “Have you arrived safely?”
That simple message carried so much care. It reminded me that belonging often grows through everyday gestures: someone saving you a seat, inviting you along, introducing you to their family, or checking that you made it home safely. By the end of my time there, I had learned that community can grow very quickly when people are willing to say ayo and mean it.

Sharing Filipino Culture Through Tinikling
Together with the Filipino community in Yogyakarta, we represented the Philippines at the Festival Permainan Tradisional or Traditional Games Festival by introducing Tinikling, one of the country’s most iconic traditional dances, to festival participants.
Perhaps that sense of belonging felt so natural to me because so much of it reminded me of home. Being surrounded by friends who treated me like family, sharing meals, traveling together, joking around, and checking in on one another carried a warmth that felt familiar.
As a Filipino American, I found many similarities between Filipino and Indonesian culture. The importance of family, humor, hospitality, and the way people care for one another often reminded me of my own family and community, both in the Philippines and the United States. That familiarity helped me feel at home or sudah betah in Yogyakarta, even while I was still learning how to navigate a culture with its own histories, languages, and traditions.
My identity helped me build bridges, but my curiosity and willingness to lean in and say “ayo” or “aku bisa” to each opportunity helped me cross them.

Learning from One Another Through Culture
Joining fellow BIPA students and Setu Sinau for an afternoon of cultural exchange in Malioboro Street, a popular street for locals and tourists in Yogyakarta. We learned traditional Javanese dance and shared our own cultures, where I had the opportunity to teach the Filipino bamboo dance, Tinikling.
What I Will Carry With Me
When I think about my year at Atma Jaya, I remember the major events, the classes, the competition, and the places I visited. However, the moments that mattered most were often much quieter.
I remember a student becoming brave enough to speak.
I remember standing on a stage and telling a story in Bahasa Indonesia.
I remember staff and student staff working together to transform an empty room into a celebration and more deeply, transforming me to become the person I am today.
I remember being welcomed into homes and treated like family.
I arrived in Yogyakarta believing that my responsibility was to teach English and introduce aspects of American culture. I am leaving with a more genuine understanding of what teaching actually requires.
Teaching requires creativity, patience, humor, and genuine empathy. It requires paying attention to the person behind the student. It requires creating spaces where people can make mistakes without feeling ashamed.
Most of all, this year taught me that cultural exchange is not about one person giving knowledge to another. It is about meeting each other with openness and allowing both people to leave changed.

Celebrating Friendship Across Cultures
Together with the student staff and participants of Friendsgiving 2025, we celebrated gratitude, friendship, and cultural exchange. The event introduced the history and traditions of Thanksgiving in the United States while creating a welcoming space for people from different backgrounds to come together.
At the beginning of this fellowship, I already believed it would be a wonderful year. I expected to experience things I would carry with me for a long time. Whenever something felt difficult, unfamiliar, or slightly beyond what I thought I could do, I reminded myself, “Pasti bisa. Aku bisa.” I can do this. I definitely can.
In the end, the year became even more meaningful than I had imagined. It was not simply “bisa.” It was “bisa banget.”
For that, I am forever thankful to the people who kept reminding me that I could do it: my friends and mentors in the United States, my family in the Philippines, and the friends, students, colleagues, and communities in Yogyakarta who continued to encourage me and say, “Aku bisa.”
Indonesia gave me a new language, new friendships, and another place to call home. Atma Jaya gave me the opportunity to become a better teacher, a more thoughtful leader, and a more courageous learner.
“Bisa banget, pasti bisa.” This is what my PiA year in Yogyakarta proved to me.
Penulis: Lady Dorothy Avila Elli

Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (KPBB) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menyelenggarakan Kursus EnglishScore Preparation bagi mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Kepala KPBB, R.A. Vita N.P. Astuti, Ph.D., menyampaikan, “Sejak tahun 2021, UAJY melalui KPBB telah bekerja sama dengan British Council untuk penyelenggaraan EnglishScore”.
EnglishScore adalah tes kemampuan bahasa Inggris bersertifikasi internasional dari British Council yang dapat diakses melalui ponsel. Dalam waktu sekitar 40 menit, tes ini mengevaluasi kemampuan grammar, vocabulary, reading, dan listening, dengan hasil yang dipetakan ke standar CEFR pada skala 0–600.
Saat ini, EnglishScore Preparation Batch 1 sedang berlangsung dengan periode kursus 13 Juli hingga 12 September 2026. Program ini dilaksanakan dalam 10 kali pertemuan dan dapat diikuti secara gratis oleh mahasiswa UAJY. EnglishScore Preparation bertujuan membantu mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tes EnglishScore sesungguhnya di masa mendatang.
Wakil Rektor I UAJY, Sushardjanti Felasari, S.T., M.Sc.CAED., Ph.D., menyampaikan bahwa pelatihan ini diselenggarakan sebagai bentuk fasilitasi bagi mahasiswa. “Untuk memfasilitasi perbaikan nilai tes EnglishScore atau Bahasa Inggris dari mahasiswa yang nilainya masih di bawah standar, KPBB UAJY akan menyelenggarakan satu kelas pelatihan Bahasa Inggris yang akan dibebaskan dari biaya pelatihan,” ujar Sushardjanti.
Salah satu staff KPBB UAJY, Juan Pius Pratomo, S.S., berharap program ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh mahasiswa, terutama karena seluruh rangkaian pelatihan diberikan secara gratis.
“Dengan adanya program ini, kami berharap antusiasme mahasiswa dan peserta lainnya semakin tinggi untuk mengikuti pelatihan hingga selesai. Melalui persiapan yang matang, peserta diharapkan dapat memperoleh hasil maksimal pada tes EnglishScore. Selain itu, pelatihan ini juga diharapkan menjadi langkah awal bagi peserta untuk mempersiapkan diri menghadapi tes kemampuan bahasa Inggris yang lebih lanjut,” tutup Juan Pius.
EnglishScore Preparation diselenggarakan secara berkala. Setelah Batch 1 berlangsung, Batch 2 akan dimulai pada 27 Juli 2026 dengan batas pendaftaran hingga Jumat, 24 Juli 2026 pukul 12.00 WIB. Sama seperti batch sebelumnya, peserta akan mengikuti 10 kali pertemuan tanpa dipungut biaya.
Bagi mahasiswa yang belum berkesempatan mengikuti Batch 1, jangan lewatkan pendaftaran EnglishScore Preparation Batch 2 dengan mendaftar melalui link pendaftaran https://bit.ly/KURSUSENGLISHSCOREPREPARATION.
Manfaatkan program ini untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tes EnglishScore British Council bersama KPBB UAJY.
Penulis:Student Staff/Adinda Putri

Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (KPBB) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menyelenggarakan acara penutupan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Tahun Akademik 2025/2026 melalui kegiatan Farewell BIPA 2026 pada Kamis (9/7/2026) pukul 10.00-13.00 WIB di Ruang Osaka, Gedung Santo Bonaventura, Kampus III UAJY.
Mengusung tema “Celebrating Language, Culture, and Friendship” dengan konsep Tropical Party, suasana ruangan dihiasi dekorasi bertema tropis yang menciptakan nuansa hangat dan penuh kebersamaan.
Acara diawali dengan sambutan dari Koordinator Program BIPA UAJY, Y. Didit Setiawan, S.Pd., M.Pd, yang membuka rangkaian Farewell BIPA 2026. Dilanjut dengan Kepala Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (KPBB) UAJY, R.A. Vita Noor Prima Astuti, S.Pd., M.Hum., Ph.D., yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa atas semangat mereka selama mengikuti Program BIPA.
Rangkaian acara dibuka dengan berbagai penampilan mahasiswa program TIAS A yang menampilkan tarian Arrow Dance dari Papua dan TIAS B yang menampilkan tarian Chocolate Choco dari Spanyol. Dilanjut dengan mahasiswa KNB A yang mempresentasikan letak geografis dan budaya di Benua Afrika. Selain itu, kemeriahan terus berlanjut dengan mahasiswa KNB B yang menampilkan lagu “Laskar Pelangi”, yang kemudian disusul penampilan dosen BIPA dengan membawakan lagu “Koyo Jogja Istimewa”.

Salah satu mahasiswa Program TIAS B, Sancha Maria Titi Guimaraes dari Timor Leste, mengungkapkan bahwa Farewell BIPA menjadi momen yang berkesan.
“Saya merasa sangat senang mengikuti Farewell BIPA 2026 karena masih memiliki kesempatan untuk bertemu kembali dengan seluruh pengajar BIPA dan menikmati kebersamaan bersama mereka,” ujar Sancha.
Hal serupa disampaikan oleh Sildonia Soares dari Timor Leste, yang mengaku memperoleh banyak pengalaman selama mengikuti program BIPA di UAJY.
“Farewell BIPA 2026 memberikan kesan yang sangat hangat. Terima kasih atas semua pengalaman dan kenangan yang telah diberikan selama mengikuti Program BIPA,” tutur Sildonia.
Menurut PIC kegiatan, Diani Bethesda, Farewell BIPA diselenggarakan untuk mempererat hubungan sekaligus mengenang perjalanan belajar para mahasiswa selama mengikuti Program BIPA di KPBB.
“Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat hubungan dan mengenang serta bersyukur atas masa-masa bersama selama berproses di KPBB. Acara ini berjalan dengan lancar dan membawa kesan haru yang mendalam. Semoga mahasiswa BIPA tetap semangat belajar, terus menjalin persahabatan, dan dapat kembali berkunjung ke KPBB maupun Yogyakarta,” ungkap Diani.

Rangkaian acara ditutup dengan pembagian sertifikat dan suvenir kepada seluruh mahasiswa BIPA. Kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama, flashmob, serta pemutaran video kenangan yang menjadi penutup kebersamaan Program BIPA Tahun Akademik 2025/2026.
Penulis:Student Staff/Adinda Putri

Kantor Pelatihan Bahasa & Budaya (KPBB) Universitas Atma Jaya Yogyakarta menyelenggarakan perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat melalui acara US Day pada Jumat, 3 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Princeton dan Ruang Shanghai, Kampus III Bonaventura UAJY, ini diikuti oleh 11 peserta mulai pukul 13.00 hingga 15.00 WIB.
US Day merupakan kegiatan yang diiniasi oleh perwakilan program Princenton in Asia Fellow yang berasal dari Amerika Serikat, sejak 2025 dengan Averielle van Horne. Tahun 2026 ini, bersama Lady Dorothy Avila Elli. Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk mengenal budaya Amerika Serikat melalui berbagai permainan khas yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan. Acara ini mendorong peserta untuk berinteraksi, membangun pengetahuan, dan memperoleh pengalaman baru.
Acara dipandu oleh Master of Ceremony, Grachia Priscillya yang diawali dengan penjelasan singkat mengenai mekanisme permainan. Setiap peserta mengunjungi 5 booth permainan yang dihiasi dengan dekorasi bernuansa merah, putih, dan biru serta bendera Amerika Serikat.
Dua booth permainan ditempatkan di Ruang Shanghai, yaitu Basketball Shootout dan Cornhole. Pada Basketball Shootout, peserta melempar bola ke empat ring dengan tingkat kesulitan berbeda untuk memperoleh poin. Sementara itu, Cornhole dimainkan secara berpasangan dengan melempar kantong ke papan sasaran.

Di Ruang Princeton, peserta dapat mencoba permainan Ring Toss dan Tip a Jug. Ring Toss menantang peserta melempar cincin ke arah botol, sedangkan Tip a Jug mengajak peserta menjatuhkan enam botol menggunakan tiga bola. Pada booth terakhir, yaitu Trivia, peserta memutar spin wheel yang berisi nomor penentu pertanyaan. Peserta yang berhasil menjawab dengan benar akan memperoleh poin dan mendapatkan permen sebagai hadiah.

Salah satu PIC acara, Gregorius Mario Darmawan menyampaikan bahwa US Day diselenggarakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Amerika Serikat sekaligus memperkenalkan permainan khas dari negara Amerika Serikat kepada para peserta.
“Harapannya, seluruh peserta dapat merasakan keseruan permainan khas Amerika Serikat dengan menikmati permainan, serta memberikan pengalaman yang menyenangkan,” ujar Mario.
Kesan positif juga disampaikan oleh salah satu peserta, Vincencia Abel Erminda. Menurutnya, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengenal budaya Amerika Serikat sekaligus memperoleh pengalaman baru.“Menurut saya acaranya seru dan menambah pengalaman. Saya mengikuti kegiatan ini untuk belajar lebih lanjut mengenai budaya Amerika Serikat, mencari pengalaman baru, sekaligus mengisi waktu luang,” ungkap Vincencia. Ia juga mengaku ada permainan yang paling disukainya. “Permainan kesukaan saya adalah Tip a Jug, karena menurut saya permainannya cukup menantang,” tambahnya.
Melalui acara US Day, KPBB UAJY berharap seluruh peserta dapat mengenal budaya Amerika Serikat dengan cara yang lebih dekat dan lebih menyenangkan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran lintas budaya dapat dikemas secara interaktif dan memberikan pengalaman yang berkesan.
Penulis: Student Staff/Adinda Putri

Ada masa ketika sore hari terasa begitu panjang. Anak-anak berlarian di halaman rumah, saling mengejar dalam permainan petak umpet, tertawa saat gasing berputar sempurna, melompati tali karet tanpa boleh menyentuhnya, atau duduk melingkar memainkan dakon hingga lupa waktu. Kenangan sederhana itu perlahan tergeser oleh layar gawai dan kesibukan sehari-hari. Namun, selama beberapa jam di Lobby Besar Kampus 3 Gedung Bonaventura UAJY pada Kamis (5/6), masa kecil itu seperti hidup kembali.
Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (KPBB) UAJY menggelar Festival Permainan Tradisional, sebuah acara yang mengajak mahasiswa menjelajahi berbagai budaya melalui permainan rakyat dari berbagai belahan dunia. Tawa dan sorak-sorai terdengar dari setiap sudut ruangan. Tidak ada yang terlalu memikirkan menang atau kalah. Yang terlihat justru rasa penasaran, canggung yang berubah menjadi akrab, dan rasa nostalgia yang kembali muncul ketika tangan mulai memainkan permainan yang sudah lama ditinggalkan.
Acara yang dimulai pukul 12.00 WIB ini dibuka oleh Kepala Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya UAJY, R.A. Vita Noor Prima Astuti, S.Pd., M.Hum., Ph.D. Beliau memiliki harapan agar untuk semua peserta menikmati serunya bermain bersama. “Bermain tidak hanya memicu adrenalin, tetapi juga melepaskan dopamin yang baik bagiuntuk Kesehatan,” ungkapnya.
Setelah pembukaan, peserta dipersilakan berkeliling mengunjungi berbagai booth yang mewakili Indonesia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini, Kamboja, Benua Afrika, Asia Selatan, dan Jerman. Festival ini juga berkolaborasi dengan UKM Seni Budaya Nasional (SBN) UAJY yang membantu menjaga booth Indonesia dan memperkenalkan beragam permainan tradisional Nusantara.
Di booth Indonesia, peserta dapat mencoba gasing, permainan tradisional berbahan kayu yang diputar menggunakan lilitan tali dan berlomba mempertahankan putarannya selama mungkin. Ada pula Hulahoop, lingkaran yang diputar di pinggang atau anggota tubuh lain dengan menjaga ritme agar tidak jatuh. Sementara itu, Bekel mengajak peserta melempar bola kecil ke udara sambil mengambil biji-biji bekel di lantai, permainan yang mengandalkan koordinasi tangan dan konsentrasi. Tak jauh dari sana, ada Dakon atau Congklak, permainan papan berlubang yang dimainkan dengan memindahkan biji-bijian kecil sambil menyusun strategi untuk mengumpulkan hasil terbanyak. Booth Indonesia juga menghadirkan permainan khas Nias, Fagito atau Fayeye, permainan lompat tali karet yang dimainkan secara berkelompok dengan tingkat kesulitan yang meningkat seiring posisi tali yang semakin tinggi.
Booth dari negara lain menghadirkan pengalaman yang tidak kalah menarik. Timor Leste memperkenalkan Tapa, permainan yang mirip engklek dengan pola kotak-kotak di tanah yang harus dilompati, serta Benthik, permainan tradisional menggunakan dua batang kayu dengan ukuran berbeda yang dimainkan secara berkelompok. Dari Papua Nugini, peserta diajak memainkan permainan Kucing dan Tikus, variasi permainan kejar-kejaran yang mengandalkan kecepatan dan kerja sama antarpemain.

Di booth Kamboja, peserta mencoba The Monkey Stealing Tree Leaf, permainan kelompok di mana satu pemain berperan sebagai monyet yang berusaha “mencuri daun” dari pemain lain tanpa tertangkap. Permainan ini memancing tawa sekaligus melatih strategi dan kelincahan. Sementara itu, booth Filipina menghadirkan Tinikling, tarian rakyat tradisional yang juga dapat dimainkan sebagai permainan. Dua batang bambu dipukulkan ke lantai secara berirama, sementara pemain lain harus melompat masuk dan keluar di sela-sela bambu tanpa terjepit.
Dari Benua Afrika, peserta dapat mencoba tiga permainan berbeda, yaitu Balloon Game, Pond Game, dan Drought/Dame, yang dimainkan secara berkelompok dan menekankan kerja sama, kecepatan berpikir, serta kelincahan bergerak. Booth Asia Selatan memperkenalkan Yassu Panju, permainan sederhana yang menggunakan tepukan tangan dan gerakan jari. Meski terlihat mudah, permainan ini membutuhkan refleks cepat untuk menghindari atau menepuk tangan lawan pada waktu yang tepat. Sementara itu, Jerman menghadirkan Eierlaufen atau Egg and Spoon Race, lomba berjalan sambil membawa telur di atas sendok tanpa menjatuhkannya.

Berkeliling dari satu booth ke booth lain rupanya tidak hanya membawa pulang pengalaman baru. Di tangan para peserta, terdapat lembar kartu kecil yang perlahan dipenuhi stempel dari setiap permainan yang mereka coba. Mahasiswa yang berhasil mengumpulkan lima stempel dari lima booth berbeda berhak mendapatkan poin SPAMA (Sistem Partisipasi Aktivitas Mahasiswa Atma Jaya). Setelah terkumpul, poin tersebut dapat ditukarkan menjadi sertifikat minat dan bakat di booth KPBB. Cara sederhana ini membuat banyak peserta tertarik untuk mencoba berbagai permainan, bahkan yang awalnya terasa asing bagi mereka.
Bagi Given Tangkowit, mahasiswa Fakultas Teknobiologi UAJY, festival ini membawa kembali kenangan yang sudah lama tersimpan. “Jujur kalau aku pribadi main game tradisional itu sekitar 10 sampai 12 tahun yang lalu. Jadi ketika KPBB menghadirkan traditional games di Atma Jaya, itu benar-benar bikin aku terharu. Aku ngerasa walaupun kita sudah gede, kita masih bisa merasakan serunya permainan tradisional lagi,” ungkapnya.
Kesan serupa juga dirasakan oleh Maria Angelica atau Mangel, selaku person in charge (PIC) Festival Permainan Tradisional. Menurutnya, menjadi PIC memberikan banyak pelajaran, mulai dari mengatur tim, berkomunikasi dengan berbagai pihak, hingga menghadapi tantangan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Meski melelahkan, semua proses itu terbayar ketika melihat peserta menikmati setiap rangkaian kegiatan.
“Saya juga senang karena melalui festival ini, permainan tradisional yang mungkin sudah jarang dimainkan bisa kembali dikenal dan dimainkan oleh teman-teman mahasiswa. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus diadakan dan semakin banyak anak muda yang tertarik untuk mengenal sekaligus melestarikan budaya Indonesia,” ujarnya.
Festival Permainan Tradisional membuktikan bahwa masa kecil mungkin sudah berlalu, tetapi kenangan tentang bermain bersama tidak pernah benar-benar hilang. Kadang, yang dibutuhkan untuk menghidupkannya kembali hanyalah sebuah gasing yang berputar, sepasang bambu yang bergerak berirama, atau tali karet sederhana yang mengajak orang-orang berkumpul dan bermain bersama sekali lagi.

Penulis: Student Staff/Dulce Maria Bella Natalie

Mengenal budaya tidak selalu harus dilakukan melalui buku atau ruang kelas. Melalui program Jogja Istimewa (Jogist) 2026, KPBB (Kantor Pelatihan Bahasa & Budaya) Universitas Atma Jaya Yogyakarta kembali menghadirkan pengalaman belajar budaya secara langsung bagi mahasiswa. Kegiatan yang diikuti mahasiswa Fakultas Teknik dan FISIP UAJY ini berlangsung pada Sabtu pagi, 23 Mei, dan menjadi gelombang terakhir rangkaian Jogist bagi mahasiswa angkatan 2025.
Sejak pagi hari, antusiasme peserta sudah terlihat meskipun cuaca Yogyakarta cukup terik. Tepat pukul 07.30 WIB, para mahasiswa mulai berkumpul di dua titik, yaitu Keben Keraton dan Yayasan Among Beksa yang berada di kawasan Keraton Yogyakarta. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk lebih dekat dengan budaya Yogyakarta, bukan hanya melalui penjelasan teoritis, tetapi juga lewat pengalaman langsung bersama para Abdi Dalem yang selama ini menjadi penjaga sekaligus pelestari tradisi keraton.
Sebanyak 13 kelompok peserta ditempatkan di sejumlah lokasi berbeda di lingkungan Keraton Yogyakarta, yaitu Bangsal Kamandungan, Bangsal Kasatriyan, Bangsal Gadri, dan Sasana Hinggil. Setiap lokasi menawarkan pengalaman budaya yang berbeda sehingga peserta dapat memperoleh pemahaman yang lebih beragam mengenai tradisi yang masih hidup dan dijaga hingga saat ini.

Pada sesi pembuka, mahasiswa diperkenalkan pada unggah-ungguh atau tata krama masyarakat Yogyakarta. Tidak hanya mendengarkan penjelasan, mereka juga terlibat langsung dalam berbagai praktik budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Yogyakarta.
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian berlangsung di Sasana Hinggil. Di lokasi ini, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat seni tari klasik gaya Yogyakarta yang memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan perjalanan Kesultanan Yogyakarta.

Tari klasik gaya Yogyakarta telah berkembang sejak berdirinya Kesultanan Yogyakarta dan pada awalnya hanya diajarkan di dalam lingkungan keraton. Seni tari tersebut kemudian mulai diperkenalkan kepada masyarakat luas pada 17 Agustus 1918. Veronica Retnaningsih, salah satu pengajar Tari Klasik di Sasana Hinggil, menjelaskan bahwa sejarah tari klasik Yogyakarta tidak dapat dilepaskan dari Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
“Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta tidak hanya membagi wilayah, namun juga membagi budaya. Salah satunya adalah seni tari. Kasunanan Surakarta menciptakan corak tari gaya baru sedangkan Kesultanan Yogyakarta melanjutkan dan mengembangkan gaya tari yang sudah ada. Oleh karena itulah tari klasik gaya Yogyakarta juga disebut sebagai Tari Mataram,” jelas Veronica.
Dalam sesi praktik, mahasiswa laki-laki mempelajari Tari Putra berupa Flashmob Beksan Wanara, sementara mahasiswi mempelajari Tari Putri Nawung Sekar. Meski sekilas terlihat sederhana, kedua tarian tersebut menuntut ketelitian, kesabaran, dan penghayatan yang mendalam. Setiap gerakan tangan maupun langkah kaki mengandung makna tertentu.
Beksan Wanara, yang juga dikenal sebagai tari kethekan, merupakan tari klasik Keraton Yogyakarta yang mengisahkan peperangan antara Sugriwa dan Subali dalam cerita Ramayana. Sementara itu, Nawung Sekar berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yakni “Nawung” yang berarti gerakan atau aktivitas dan “Sekar” yang berarti bunga. Nama tersebut menggambarkan gerakan yang anggun, lembut, dan indah seperti bunga yang bergoyang tertiup angin.

Selain mempelajari teknik gerakan, peserta juga diajak memahami nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam tarian klasik Yogyakarta. Nilai-nilai tersebut meliputi Sawiji yang berarti fokus dan konsentrasi penuh tanpa ketegangan, Greged yang menggambarkan semangat terkendali serta kesungguhan dalam mencapai tujuan, Sengguh yang bermakna percaya diri tanpa kesombongan, serta Ora Mingkuh yang mengajarkan tanggung jawab dan keteguhan dalam menghadapi berbagai kesulitan.
Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Joice, mahasiswa FISIP angkatan 2023 asal Kupang, NTT, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. “Seru sekali mengikuti kegiatan ini. Saya berkesempatan berlatih tari tradisional bersama Abdi Dalem dan merasakan langsung pengalaman melakukan gerakan tarian klasik Jogja yang belum pernah saya coba sebelumnya,” ujarnya.
Melalui Jogist 2026, KPBB UAJY kembali menghadirkan ruang belajar budaya yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga pengalaman yang berkesan. Program ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap budaya dapat tumbuh melalui interaksi langsung, praktik nyata, dan pengalaman yang dialami sendiri oleh para peserta.
Penulis: Student Staff/Gradciano Madomi Jawa