Mahasiswa UAJY Menyelami Makna Tari Klasik Keraton Yogyakarta di Jogist 2026


Mengenal budaya tidak selalu harus dilakukan melalui buku atau ruang kelas. Melalui program Jogja Istimewa (Jogist) 2026, KPBB (Kantor Pelatihan Bahasa & Budaya) Universitas Atma Jaya Yogyakarta kembali menghadirkan pengalaman belajar budaya secara langsung bagi mahasiswa. Kegiatan yang diikuti mahasiswa Fakultas Teknik dan FISIP UAJY ini berlangsung pada Sabtu pagi, 23 Mei, dan menjadi gelombang terakhir rangkaian Jogist bagi mahasiswa angkatan 2025.

Sejak pagi hari, antusiasme peserta sudah terlihat meskipun cuaca Yogyakarta cukup terik. Tepat pukul 07.30 WIB, para mahasiswa mulai berkumpul di dua titik, yaitu Keben Keraton dan Yayasan Among Beksa yang berada di kawasan Keraton Yogyakarta. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk lebih dekat dengan budaya Yogyakarta, bukan hanya melalui penjelasan teoritis, tetapi juga lewat pengalaman langsung bersama para Abdi Dalem yang selama ini menjadi penjaga sekaligus pelestari tradisi keraton.


Sebanyak 13 kelompok peserta ditempatkan di sejumlah lokasi berbeda di lingkungan Keraton Yogyakarta, yaitu Bangsal Kamandungan, Bangsal Kasatriyan, Bangsal Gadri, dan Sasana Hinggil. Setiap lokasi menawarkan pengalaman budaya yang berbeda sehingga peserta dapat memperoleh pemahaman yang lebih beragam mengenai tradisi yang masih hidup dan dijaga hingga saat ini.

Pada sesi pembuka, mahasiswa diperkenalkan pada unggah-ungguh atau tata krama masyarakat Yogyakarta. Tidak hanya mendengarkan penjelasan, mereka juga terlibat langsung dalam berbagai praktik budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Yogyakarta.

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian berlangsung di Sasana Hinggil. Di lokasi ini, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat seni tari klasik gaya Yogyakarta yang memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan perjalanan Kesultanan Yogyakarta.

Tari klasik gaya Yogyakarta telah berkembang sejak berdirinya Kesultanan Yogyakarta dan pada awalnya hanya diajarkan di dalam lingkungan keraton. Seni tari tersebut kemudian mulai diperkenalkan kepada masyarakat luas pada 17 Agustus 1918. Veronica Retnaningsih, salah satu pengajar Tari Klasik di Sasana Hinggil, menjelaskan bahwa sejarah tari klasik Yogyakarta tidak dapat dilepaskan dari Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

“Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta tidak hanya membagi wilayah, namun juga membagi budaya. Salah satunya adalah seni tari. Kasunanan Surakarta menciptakan corak tari gaya baru sedangkan Kesultanan Yogyakarta melanjutkan dan mengembangkan gaya tari yang sudah ada. Oleh karena itulah tari klasik gaya Yogyakarta juga disebut sebagai Tari Mataram,” jelas Veronica.

Dalam sesi praktik, mahasiswa laki-laki mempelajari Tari Putra berupa Flashmob Beksan Wanara, sementara mahasiswi mempelajari Tari Putri Nawung Sekar. Meski sekilas terlihat sederhana, kedua tarian tersebut menuntut ketelitian, kesabaran, dan penghayatan yang mendalam. Setiap gerakan tangan maupun langkah kaki mengandung makna tertentu.

Beksan Wanara, yang juga dikenal sebagai tari kethekan, merupakan tari klasik Keraton Yogyakarta yang mengisahkan peperangan antara Sugriwa dan Subali dalam cerita Ramayana. Sementara itu, Nawung Sekar berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yakni “Nawung” yang berarti gerakan atau aktivitas dan “Sekar” yang berarti bunga. Nama tersebut menggambarkan gerakan yang anggun, lembut, dan indah seperti bunga yang bergoyang tertiup angin.

Selain mempelajari teknik gerakan, peserta juga diajak memahami nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam tarian klasik Yogyakarta. Nilai-nilai tersebut meliputi Sawiji yang berarti fokus dan konsentrasi penuh tanpa ketegangan, Greged yang menggambarkan semangat terkendali serta kesungguhan dalam mencapai tujuan, Sengguh yang bermakna percaya diri tanpa kesombongan, serta Ora Mingkuh yang mengajarkan tanggung jawab dan keteguhan dalam menghadapi berbagai kesulitan.

Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Joice, mahasiswa FISIP angkatan 2023 asal Kupang, NTT, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. “Seru sekali mengikuti kegiatan ini. Saya berkesempatan berlatih tari tradisional bersama Abdi Dalem dan merasakan langsung pengalaman melakukan gerakan tarian klasik Jogja yang belum pernah saya coba sebelumnya,” ujarnya.

Melalui Jogist 2026, KPBB UAJY kembali menghadirkan ruang belajar budaya yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga pengalaman yang berkesan. Program ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap budaya dapat tumbuh melalui interaksi langsung, praktik nyata, dan pengalaman yang dialami sendiri oleh para peserta.

Penulis: Student Staff/Gradciano Madomi Jawa