Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (KPBB) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) kembali menyelenggarakan Program Jogja Istimewa (Jogist) pada Senin, 13 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung di Yayasan Siswa Among Beksa ini dilaksanakan mulai pukul 07.30 hingga 11.00 WIB.

Kali ini, Program Jogist ini berupa Program Susulan, yang artinya program yang dikhususkan bagi mahasiswa UAJY yang belum lulus atau belum mengikuti program Jogist sebelumnya. Jogist Susulan merupakan program yang dirancang untuk memperkenalkan budaya dan nilai-nilai luhur Yogyakarta kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa perantau. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, tata krama masyarakat, serta mempraktikkan secara langsung salah satu warisan budaya, yaitu Joged Mataram.
Sebelum praktik budaya dimulai, peserta memperoleh materi yang dibawakan oleh Woro Wiratsih, S.Pd., M.A., mengenai keistimewaan Yogyakarta, sejarah terbentuknya Daerah Istimewa Yogyakarta, serta nilai-nilai unggah-ungguh yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Setelah itu, peserta mengikuti praktik Joged Mataram yang dipandu langsung oleh Harin Setyandari, S.Sn., dan Muhamad Samiaji S.Pd., sehingga mereka tidak hanya mempelajari gerakan tari, tetapi juga memahami filosofi yang terkandung di dalamnya.

Mahasiswa Engelberth Fredrik Hany Yogi, mengaku memperoleh pengalaman baru selama mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, sesi praktik tari menjadi bagian yang paling berkesan.
“Saya terkesan sekali pada saat mengikuti sesi tarian. Meskipun saya tidak bisa menari, saya merasa senang karena bisa mempelajari gerakan-gerakannya. Melalui materi yang disampaikan, saya juga menjadi lebih memahami budaya Jogja, mulai dari tata krama, tari tradisional, hingga berbagai keunikannya,” ungkap Engelberth.

Kesan serupa juga disampaikan oleh mahasiswa Yohanes T. B. Nifanngilyau Tiku. Ia mengatakan bahwa kegiatan Jogist memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai budaya Yogyakarta sekaligus mengajarkan nilai-nilai kehidupan melalui setiap gerakan Joged Mataram.
“Saya sangat terkesan dengan keramahan masyarakat Yogyakarta dan bagaimana nilai-nilai budaya serta tata krama tetap dijaga hingga saat ini. Saat belajar Joged Mataram, saya menyadari bahwa setiap gerakannya bukan sekadar gerakan fisik, tetapi juga mengandung filosofi, keanggunan, dan konsentrasi. Dari kegiatan ini saya belajar tentang sejarah Yogyakarta, tata krama masyarakat, serta nilai tanggung jawab, percaya diri, dan semangat yang diajarkan melalui tarian tradisional,” tutur Yohanes.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan, terutama saat praktik Joged Mataram. Meskipun sebagian besar peserta baru pertama kali mempelajari tarian tersebut, mereka tetap bersemangat mengikuti setiap gerakan yang diajarkan hingga kegiatan berakhir.
Kepala KPBB, R.A. Vita N.P. Astuti, Ph.D., menyampaikan, “Peserta Jogist tidak hanya mengikuti materi dan praktik Joged Mataram, tetapi juga memperoleh tugas untuk menyusun laporan kegiatan dalam bentuk video reels yang diunggah melalui akun Instagram @jogistuajy”.
Salah satu PIC Jogist Susulan Periode I, Tatianna Cinta Larasati, berharap Jogist Susulan dapat membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap budaya Yogyakarta.
“Semoga melalui Jogist Susulan, mahasiswa dapat lebih mudah beradaptasi, menyesuaikan diri dengan kultur Yogyakarta, serta semakin mengenal dan menghargai budaya yang dimiliki daerah ini,” ungkap Laras.
Bagi mahasiswa yang belum sempat mengikuti Jogja Istimewa, peogram ini masih akan kembali dibuka pada periode berikutnya. Informasi mengenai pelaksanaan Jogja Istimewa dapat dipantau melalui akun Instagram @kpbbuajy.
Penulis:Student Staff/Adinda Putri