Hujan Turun, Barongsai Tetap Gas di UAJY!


Langit Yogyakarta tampak mendung ketika jarum jam mendekati pukul 16.00 pada Rabu (4/3). Meski cuaca tidak terlalu bersahabat, penonton yang ingin menyaksikan pertunjukan tetap berdatangan ke halaman depan Gedung Thomas Aquinas, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Sore itu, Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (KPBB) UAJY mengadakan perayaan Imlek dengan menghadirkan pertunjukan barongsai dan liong dari Paguyuban Naga Barongsai Singa Mataram Yogyakarta. Tabuhan musik mulai terdengar dan langsung menarik perhatian penonton. Lima barongsai dengan warna mencolok—merah, pink, hitam, kuning, dan oranye—muncul bergantian. Gerakan yang lincah membuat penonton semakin mendekat ke area pertunjukan. Banyak yang mengeluarkan ponsel untuk merekam, sementara anak-anak yang ikut menonton terlihat paling antusias.

Setelah penampilan pertama, panitia mengadakan sesi tanya jawab. Penonton yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar mendapat hadiah dari UAJY. Suasana jadi semakin ramai ketika beberapa peserta berhasil menjawab dengan tepat. Namun, hujan yang sejak awal mengancam akhirnya benar-benar turun. Awalnya hanya rintik, tetapi kemudian semakin deras. Panitia langsung bergerak cepat dan memindahkan pertunjukan ke dalam lobi gedung. Shafa, penanggung jawab perayaan Imlek 2026 dari Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (KPBB), mengaku sempat waswas saat hujan mulai turun. Padahal, ia dan tim telah menyiapkan acara ini sejak pertengahan Januari.


“Jujur sempat khawatir karena hujan, tapi puji Tuhan lobi Kampus 2 cukup luas jadi tim barongsai masih bisa tampil,” ujarnya.


Menurut Shafa, sempat ada kendala saat memindahkan perlengkapan karena lantai menjadi licin. Meski begitu, acara tetap berjalan. Bagi Shafa yang baru pertama kali menjadi penanggung jawab kegiatan, pengalaman ini menjadi pembelajaran baru. Di dalam lobi, penonton tetap memadati area pertunjukan. Reta, Desty, dan Mei, mahasiswi Fakultas Bisnis dan Ekonomika UAJY angkatan 2025 program studi akuntansi, berdiri cukup dekat dengan para pemain. Ini menjadi pengalaman pertama mereka menonton barongsai di kampus.


“Seru,” kata Desty sambil tertawa.


“Bagus sih, keren. Semoga tahun depan ada lagi,” tambah Mei.


Reta mengaku sempat khawatir melihat kondisi lantai yang licin, apalagi ketika salah satu pemain melakukan salto.


“Tadi sempat takut mereka kepleset. Tapi ternyata mereka tetap lanjut dan kelihatan profesional,” ujarnya.


Menjelang petang, hujan mulai reda. Pertunjukan kembali dipindahkan ke luar ruangan. Kali ini giliran liong yang tampil dengan gerakan meliuk mengikuti irama tabuhan. Saat liong bergerak membentuk lengkungan di udara, petasan dinyalakan sebagai bagian dari penutup pertunjukan. Suaranya memecah suasana dan langsung disambut sorakan penonton yang semakin ramai setelah hujan berhenti.
Raditya dan Jeffri dari Paguyuban Naga Barongsai Singa Mataram Yogyakarta mengatakan bahwa mereka sudah terbiasa tampil di berbagai acara selama musim Imlek. Tim mereka rutin berlatih setiap Rabu dan Jumat. Menurut Jeffri, hujan sering menjadi tantangan saat tampil di luar ruangan. Jika tersedia tempat di dalam ruangan, pertunjukan biasanya dipindahkan. Jika tidak, mereka harus menghentikan atraksi demi keselamatan.


“Kalau ada tempat di dalam ruangan kita pindah. Kalau tidak, biasanya berhenti main,” katanya.
Meski sempat diguyur hujan, pertunjukan barongsai di UAJY tetap berlangsung meriah. Penonton tetap bertahan hingga akhir, dan para pemain berhasil menutup pertunjukan dengan atraksi yang menghibur.