
YOGYAKARTA – Sebanyak 625 mahasiswa baru Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) mengikuti Program Jogja Istimewa (Jogist) yang diselenggarakan oleh Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (KPBB) UAJY. Pada periode September 2026, program ini diikuti oleh 393 mahasiswa Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) serta 232 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
Program Jogist khusus mahasiswa angkatan 2026 ini berlangsung dari September hingga November 2026. Kegiatan dilaksanakan setiap Kamis dan Jumat dengan dua pilihan sesi pada Kamis, yaitu pukul 10.00–12.30 dan 13.00–15.30, serta sesi pada Jumat, yaitu pukul 09.00–11.30 dan 13.00–15.30.
Pada periode September, mahasiswa FBE mengikuti Jogist pada 17–18 September, sedangkan mahasiswa FISIP mengikuti kegiatan pada 24–25 September. Rangkaian program kemudian dilanjutkan ke fakultas lainnya hingga 19–20 November 2026.

Jogist kali ini mengenalkan budaya Yogyakarta melalui pembelajaran Jogedan Mataram. Mahasiswa mengikuti pembelajaran tari klasik gaya Yogyakarta secara langsung di Siswa Among Beksa, lembaga pendidikan seni tari klasik gaya Yogyakarta. Mahasiswa peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Bagi sebagian peserta, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama untuk mempelajari tari tradisional Yogyakarta secara langsung.
Arnea Chripsya Gwenda Fabryan (Gwen), mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi yang berasal dari Gunung Kidul, [KKPBdBK1.1]mengaku mendapatkan pengalaman baru setelah mengikuti pembelajaran tari putri. Sebelumnya, ia lebih sering terlibat sebagai pengiring atau pengrawit dan belum pernah mencoba menari. “Dikasih kesempatan untuk belajar secara langsung gimana teknik dasar-dasar menari tradisional Yogyakarta dan sangat menyenangkan,” ujar Gwen.

Ia juga mengingat beberapa gerakan yang dipelajari selama latihan, seperti ngukel, ngithing, dan ngeruji.
Pengalaman berbeda dirasakan Timothy David Chandra Buana (David), mahasiswa Ilmu Komunikasi asal Palu, Sulawesi Tengah. Dalam pembelajaran tari putra, ia mempelajari gerakan sembahan sila. David pun mengetahui hal baru bahwa ternyata gerakan tersebut mengandung makna doa kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum menjalankan kegiatan. “Dalam menari, kita diajar untuk tetap berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kegiatan kita selanjutnya tetap dilancarkan,” kata David.
Sementara itu, Jesica Sitio (Jesica), mahasiswa Ilmu Komunikasi asal Medan, mengatakan dirinya antusias mengikuti Jogist karena dapat mengenal budaya Yogyakarta sekaligus bertemu dengan teman-teman baru. Jesica mengaku menemukan perbedaan antara tari klasik Yogyakarta dan tarian tradisional yang sebelumnya ia kenal. Ia menilai gerakan tangan sebagai salah satu bagian yang paling menarik selama latihan.
“Di sini kayak kiri-kanan tangannya itu beda, terus dua gerakan kakinya itu kayak susah, tapi seru banget,” ujar Jessica.
Selain pembelajaran tari, Jogist juga menjadi bagian dari kegiatan pengenalan budaya Yogyakarta bagi mahasiswa baru UAJY. Rangkaian program ini masih akan berlangsung hingga November dengan peserta dari fakultas lain untuk semakin dekat dengan budaya di tempat mereka menimba ilmu.
Penulis: Student Staff/Dulce Maria Bella Natalie