Menyatu dengan Budaya Jogja, Ratusan Mahasiswa UAJY Ikuti Jogist 2026 di Keraton Yogyakarta


Sekitar 450 lebih mahasiswa dari Fakultas Teknologi Industri (FTI) dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) tampak memenuhi kawasan Keraton Yogyakarta pada Sabtu pagi (14/3/2026). Sejak pukul 08.00 WIB, suasana sudah terasa hidup dengan kehadiran para peserta yang antusias mengikuti Gelombang Kedua Program Jogja Istimewa (Jogist) yang diselenggarakan oleh Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (KPBB) Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Kegiatan ini bukan sekadar agenda kunjungan biasa. Jogist dirancang sebagai ruang belajar langsung bagi mahasiswa untuk memahami budaya Yogyakarta secara lebih dekat. Tidak hanya melalui teori, tetapi juga melalui praktik bersama para Abdi Dalem Keraton—para praktisi budaya yang telah lama mengabdikan diri dalam menjaga tradisi.


Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi pemaparan materi mengenai unggah-ungguh oleh dosen pembimbing. Dalam budaya Jawa, unggah-ungguh bukan hanya sekadar aturan sopan santun, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun relasi sosial yang harmonis. Mahasiswa diajak memahami bagaimana cara menghormati orang lain, terutama yang lebih tua, serta bagaimana menempatkan diri dalam berbagai situasi sosial.

Penjelasan ini menjadi bekal penting sebelum peserta terjun langsung ke praktik budaya. Dengan pemahaman awal tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengikuti kegiatan secara teknis, tetapi juga mampu menangkap makna di balik setiap tradisi yang dipelajari.

Setelah sesi pembukaan, para peserta dibagi menjadi 13 kelompok dan ditempatkan di beberapa titik berbeda di area Keraton, yakni Bangsal Kamandungan, Bangsal Kasatriyan, Bangsal Gadri dan Sasana Hinggil. Masing-masing lokasi menghadirkan pengalaman budaya yang berbeda, membuat kegiatan terasa semakin beragam dan menarik.

Di Bangsal Kamandungan, suasana terasa lebih dinamis. Mahasiswa mencoba plinthengan dan jemparingan, dua permainan tradisional khas Mataram berupa ketapel dan panahan. Selain itu, beberapa kelompok juga mempelajari Seni Pewayangan dan Pedalangan. Mereka tidak hanya dikenalkan pada tokoh-tokoh wayang dan sejarahnya, tetapi juga diajak memahami filosofi yang terkandung di dalamnya serta cara memainkan instrumen dalam pertunjukan.

Berbeda dengan Kamandungan, suasana di Sasana Hinggil terasa lebih tenang dan penuh konsentrasi. Di sini, mahasiswa laki-laki mempelajari Tari Putra: Flashmob Beksan Wanara, dan mahasiswi putri menarikan Tari Putri Nawung Sekar. Meski gerakannya terlihat sederhana, tarian ini ternyata membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan penghayatan yang mendalam. Setiap gerakan tangan dan langkah kaki memiliki arti tersendiri.

Tak jarang, suasana latihan diwarnai tawa ketika peserta kesulitan mengikuti gerakan. Namun seiring waktu, mereka mulai menemukan ritme dan tampil lebih percaya diri. Momen ini menjadi salah satu bagian paling berkesan karena memperlihatkan proses belajar yang tidak hanya serius, tetapi juga menyenangkan.

Sementara itu, di Bangsal Kasatriyan, mahasiswa diajak mengenal Lebdaswara, seni menyanyi khas Yogyakarta. Lantunan nada yang pelan dan teratur menciptakan suasana yang khidmat. Awalnya, beberapa peserta terlihat malu untuk bersuara. Namun perlahan, rasa canggung tersebut menghilang saat suara mereka mulai berpadu dalam harmoni.

Di lokasi lain, yakni Gadri, peserta mempelajari Tata Busana Tradisional. Mereka diperlihatkan bagaimana setiap lipatan kain dan penggunaan aksesori memiliki aturan sekaligus makna tertentu. Hal ini membuka wawasan bahwa busana tradisional bukan sekadar penampilan, melainkan juga sarat nilai budaya. Mahasiswa dibagi menjadi kelompok-kelompok terdiri dari tiga sampai emapt orang untuk mempermudah membuat wiru dan memakai kain jarik-nya.

Bagi mahasiswa yang berasal dari luar Yogyakarta, pengalaman ini terasa sangat berkesan. Jogist menjadi pintu awal bagi mereka untuk mengenal budaya lokal secara lebih mendalam.

Dimas, mahasiswa asal Palembang, mengungkapkan, “Seru sekali mengikuti kegiatan ini. Saya berkesempatan mencoba plinthengan bersama Abdi Dalem dan merasakan langsung pengalaman memainkan permainan tradisional yang sebelumnya belum pernah saya coba.”

Hal serupa juga dirasakan oleh Wiwin, mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengikuti kegiatan jemparingan. Ia mengaku, “Saya sangat terkesan dengan pengalaman belajar budaya secara langsung di Keraton.” Baginya, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama yang membuka pandangannya terhadap kekayaan budaya Yogyakarta.

Menurutnya, “Kesempatan untuk belajar langsung dari para Abdi Dalem memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan hanya mempelajari budaya melalui buku atau kelas.” Ia juga mengaku menjadi lebih tertarik untuk mempelajari budaya-budaya baru selama berada di Yogyakarta.

Melalui Jogist 2026, KPBB UAJY berhasil menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya informatif, tetapi juga menyenangkan dan berkesan. Program ini menunjukkan bahwa memahami budaya tidak harus selalu melalui teori, tetapi juga bisa melalui pengalaman langsung yang melibatkan interaksi, praktik, dan refleksi.

Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Yogyakarta bukan hanya dikenal sebagai kota pelajar, tetapi juga sebagai kota yang kaya akan nilai budaya. Bagi para mahasiswa, Jogist bukan sekadar kegiatan satu hari, melainkan pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam dan memperluas cara pandang mereka terhadap keberagaman budaya di Indonesia.