Belajar Langsung di Keraton, Mahasiswa FBE Rasakan Pengalaman Budaya Autentik


Langit Yogyakarta pagi itu tampak cerah. Di kala musim hujan yang belum sepenuhnya berakhir, matahari bersinar menyambut ratusan mahasiswa baru Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang memadati kawasan Keraton pada Sabtu (21/02). Hari itu menjadi pengalaman awal bagi mereka untuk mengenal Yogyakarta bukan sekadar sebagai kota tempat menempuh pendidikan, tetapi juga sebagai kota yang kaya akan budaya.


Melalui Program Jogja Istimewa yang diselenggarakan Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (KPBB) UAJY, para mahasiswa diajak memahami nilai-nilai budaya Yogyakarta secara langsung. Gelombang pertama program ini diikuti oleh mahasiswa Fakultas Bisnis dan Ekonomika. Sejak pagi, peserta telah berkumpul dengan berpakaian rapi. Raut wajah penasaran dan antusias tampak menghiasi suasana, meskipun sebagian masih terlihat canggung satu sama lain.


Kegiatan diawali pukul 08.00 dengan pemaparan materi mengenai unggah-ungguh tentang nilai tata krama dan etika sosial yang berlaku di tengah masyarakat Yogyakarta. Dalam sesi ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari tata krama sebagai aturan formal, tetapi juga memahami maknanya dalam kehidupan sosial masyarakat. Unggah-ungguh tersebut dipaparkan sebagai cara menjaga relasi, menghormati yang lebih tua, serta menempatkan diri secara tepat dalam pergaulan. Materi tersebut menjadi landasan sebelum peserta mengikuti praktik budaya di berbagai lokasi.


Selanjutnya, peserta dibagi ke dalam 13 kelompok yang ditempatkan di sejumlah titik kegiatan. Selain di lingkungan Keraton, salah satu lokasi kegiatan berada di Among Beksa yang terletak di nDalem Kaneman, di sisi selatan Keraton dan terpisah dari kompleks utama. Setiap kelompok memperoleh pengalaman berbeda, namun tetap dalam semangat yang sama, yakni mengenal budaya secara langsung.


Di Among Beksa, mahasiswa mempelajari Joged Mataram. Meski gerakannya tampak sederhana, tarian tersebut menuntut ketelitian, kesabaran, dan penghayatan karena setiap langkah dan posisi tangan memiliki makna tersendiri. Suasana sempat diwarnai tawa ketika beberapa peserta kesulitan mengikuti arahan pengajar, namun perlahan mereka mulai menemukan ritme dan bergerak dengan lebih percaya diri.


Berbeda dengan suasana tersebut, di Kamandungan mahasiswa berlatih plinthengan dan jemparingan, seni ketapel dan memanah tradisional khas Mataram. Selain itu, kelompok mahasiswa lain juga diperkenalkan pada wayang sebagai media penyampaian nilai dan cerita. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak memahami bahwa budaya tidak hanya hadir dalam bentuk pertunjukan, tetapi juga dalam filosofi yang menyertainya.


Sementara itu, di Kasatriyan, mahasiswa mempelajari lebdaswara, yakni seni menyanyi dengan gaya khas Yogyakarta. Lantunan nada yang pelan dan teratur menghadirkan suasana khidmat. Rasa malu yang semula terasa perlahan memudar ketika suara para peserta mulai menyatu dalam harmoni.
Di lokasi lain, tepatnya di Gadri, mahasiswa mempelajari tata busana tradisional. Mereka diperlihatkan bahwa setiap lipatan kain dan penggunaan aksesori memiliki aturan sekaligus makna. Adapun di Pangurakan, mahasiswa belajar tentang teori karawitan yang mengajarkan pentingnya kekompakan, sebab setiap instrumen memiliki peran yang saling melengkapi dan tidak dapat berdiri sendiri.


Bagi mahasiswa yang berasal dari luar Yogyakarta, rangkaian kegiatan ini menjadi pengalaman baru yang berkesan. Olivia, mahasiswi asal Bangka Belitung, mengaku tidak menyangka dapat belajar langsung bersama para abdi dalem. “Kami belajar tarian baru. Kegiatannya seru dan menambah pengetahuan serta wawasan,” ujarnya.


Menjelang berakhirnya acara, seluruh kelompok kembali berkumpul. Percakapan tentang pengalaman masing-masing terdengar saling bersahutan. Hari itu, para mahasiswa pulang tidak hanya membawa dokumentasi untuk dibagikan di media sosial, tetapi juga pemahaman baru tentang budaya Yogyakarta, sebuah bekal yang akan menyertai perjalanan mereka selama menempuh studi di kota ini.