
Pagi di Kemadang, Tanjungsari, Gunung Kidul, Rabu (22/04), dibuka dengan langit cerah dan udara yang hangat. Jalanan desa mulai ramai sejak pagi, menandakan ada sesuatu yang tengah dipersiapkan. Warga lalu lalang dengan pakaian adat, sebagian membawa hasil bumi, sebagian lain menyiapkan atribut yang akan diarak. Hari itu, Merti Dusun kembali digelar, sebuah tradisi tahunan yang bukan hanya menjadi milik warga, tetapi juga terbuka bagi para tamu, termasuk mahasiswa-mahasiswi Program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) dari KPBB yang diundang untuk ikut merasakan langsung pengalaman budaya ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.
Sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB, rangkaian acara dimulai dengan kirab, arak-arakan yang bergerak dari titik awal menuju balai desa. Kirab ini menghadirkan berbagai wujud kreativitas warga. Ada yang mengenakan busana adat sederhana, ada pula yang membawa replika hewan seperti sapi dan naga. Tidak sedikit pula yang menggotong hasil bumi, serta menampilkan simbol-simbol alam yang merepresentasikan kehidupan desa. Di tengah arak-arakan, kesenian tradisional seperti jathilan ikut menghidupkan suasana, mengiringi langkah peserta sepanjang perjalanan.

Setibanya di balai desa yang berpusat di area pendopo joglo, kirab disambut dengan penampilan jathilan secara bergantian dari tiap perwakilan dusun. Denting gamelan dan gerak dinamis para penari menciptakan suasana yang penuh energi. Setelah itu, acara berlanjut ke bagian inti dengan sambutan dari perangkat desa, dilanjutkan pembacaan sejarah Kemadang. Tradisi Merti Dusun ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada pendiri desa sekaligus ungkapan syukur atas hasil bumi yang diperoleh masyarakat.
Memasuki siang hari, suasana berubah menjadi lebih hangat ketika warga dan tamu berkumpul untuk makan bersama. Bingkisan berisi nasi gurih sederhana dan ayam kampung dibagikan, sementara sebagian warga menikmati hidangan serupa di tempat. Kebersamaan terasa begitu kuat dalam momen ini, seolah menghapus batas antara warga lokal dan para tamu yang datang.
Di tengah kebersamaan itu, langit yang sejak pagi cerah perlahan berubah. Hujan turun saat acara makan berlangsung, membuat sebagian orang bergegas mencari tempat berteduh, sementara yang lain tetap melanjutkan makan dengan santai. Alih-alih mengganggu, hujan justru menambah kesan hangat pada momen tersebut, seakan menjadi bagian dari pengalaman yang tak terpisahkan dari hari itu.

Kesan mendalam juga dirasakan oleh para mahasiswa internasional yang hadir. Seorang mahasiswa asal Amerika Serikat, Lady Dorothy Elli, peserta program Princeton in Asia Fellowship mengaku, “Saya sangat menikmati pengalaman ini, meskipun merasa lelah setelah mengikuti seluruh rangkaian acara.”
“Seru banget. Dan jujur sekarang aku capek banget, tapi aku juga mengapresiasi orang-orang yang tinggal di sini dan membuat acara ini. Karena aku juga mengingat dan harus berpikir semua hal-hal yang harus dipersiapkan untuk acara ini. Jadi aku sangat mengapresiasi mereka dan aku juga… Enjoy banget hari ini. Dan semoga semua mahasiswa asing dari Papua Nugini, dari Timor Leste, dan negara-negara lain juga bisa enjoy hari ini dan menikmati,” ungkap Lady kepada KPBB (22/04).

Pengalaman serupa juga oleh Nuansa Asa, salah satu staf yang mendampingi para mahasiswa BIPA. Ia menyebut bahwa interaksi antara mahasiswa internasional dan warga menjadi bagian paling berkesan dalam kegiatan ini. “Acara berkesan karena setiap mendampingi kegiatan merti dusun ini saya selalu menyaksikan bagaimana setiap peserta BIPA sangat antusias mengenal dan mempelajari budaya lokal. Juga masyarakat lokal yang juga antusias saat mendapat kunjungan orang asing,” ujarnya.
Rangkaian Merti Dusun ini akan selalu diadakan setiap tahun dengan bulan yang berbeda. Tahun lalu di bulan Agustus, tahun ini di bulan April.
