Mahasiswa Fakultas Hukum dan Fakultas Teknobiologi UAJY Rasakan Budaya Jogja di Kraton


Pagi itu, langit Yogyakarta tampak cerah dengan sinar matahari yang cukup terik sejak awal hari (18/04). Namun, teriknya cuaca tidak mematahkan semangat mahasiswa Fakultas Teknobiologi dan Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Tepat pukul 07.30 WIB, para mahasiswa yang memulai studinya pada tahun 2025 ini mulai berkumpul di dua titik, yaitu Keben Keraton dan Yayasan Among Beksa. Kegiatan bertajuk “Jogja Istimewa” ini menjadi salah satu upaya Universitas Atma Jaya Yogyakarta untuk mengenalkan nilai-nilai budaya Yogyakarta secara lebih dekat melalui pengalaman langsung di lapangan. Program ini diselenggarakan oleh Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya dan merupakan pelaksanaan gelombang ketiga, setelah sebelumnya sukses melibatkan mahasiswa dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Fakultas Kedokteran, serta Fakultas Teknik Industri.

Mahasiswa yang berkumpul di kawasan Keraton kemudian diarahkan masuk ke dalam area dan dibagi ke dalam tiga lokasi utama, yaitu Kamandungan, Kasatriyan, dan Gadri. Di setiap lokasi, mereka mengikuti berbagai aktivitas budaya yang telah disiapkan, mulai dari pengenalan unggah-ungguh di Yogyakarta hingga praktik langsung tradisi yang masih dilestarikan hingga kini. Sementara itu, mahasiswa yang berada di Among Beksa memulai kegiatan dengan sesi materi bersama dosen, yang membahas keistimewaan Yogyakarta dari sisi budaya dan sejarah.

Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian peserta adalah Jemparingan, sebuah tradisi panahan khas Yogyakarta yang memiliki nilai filosofi mendalam. Berbeda dari panahan biasa, Jemparingan dilakukan dengan posisi duduk bersila dan menekankan ketenangan serta fokus batin. Bagi sebagian besar mahasiswa, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama yang tidak hanya menantang, tetapi juga menyenangkan.

Antusiasme tersebut terlihat dari testimoni beberapa peserta. Cinta, mahasiswa Fakultas Hukum, mengaku, “Kegiatan ini terasa sangat seru karena memberikan pengalaman baru yang belum pernah saya coba sebelumnya.”

Hal serupa juga disampaikan oleh Banyu Wimala, “Saya merasa Jemparingan menjadi aktivitas yang unik dan berbeda dari kegiatan sehari-hari.”

Sementara itu, Rainer Fabian menambahkan, “Meskipun awalnya belum pernah mencoba memanah, pengalaman pertamanya justru terasa menyenangkan dan membuat saya ingin mencoba lagi.”

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang budaya secara teoritis, tetapi juga merasakannya secara langsung. Interaksi dengan praktik budaya seperti jemparingan memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai nilai kesabaran, konsentrasi, dan keseimbangan diri yang menjadi bagian dari filosofi masyarakat Yogyakarta.

Program Jogja Istimewa ini menjadi ruang pembelajaran alternatif yang mempertemukan mahasiswa dengan budaya lokal secara lebih hidup. Dengan suasana yang santai namun tetap edukatif, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan apresiasi generasi muda terhadap kekayaan budaya Indonesia, khususnya Yogyakarta, sekaligus mempererat kebersamaan antar mahasiswa lintas fakultas.